Saya punya kucing, Bonk namanya, hitam kekuningan warnanya, seeor kucing kampung. Saya menemukannya ketika pada hari minggu pada tanggal 16 Oktober 2011 ketika saya berangkat jogging naik sepeda (jogging kok naik sepeda?) begini, saya mau jogging di rektorat Ugm dan untuk kesana saya mengendarai sepeda. Ditengah jalan, saya mendengar suara kucing, karena jalanan lengang, meongannya terdengar keras sekali, namun jika didengar baik-baik, suaranya melukiskan perasaan takut, kehilangan, sepi. Saya menemukannya ditengah jalan, dimana disisi jalan tersebut ada tumpukan sampah. Kucingnya dibuang, begitu kata pemulung yang sedang memunguti sampah, dibawa aja, sarannya lagi.

Bonk pada hari pertama bertemu dengan saya
Dan saya pun membawanya, dengan suara lolongannya yang tak reda juga, bercampur cemas (terasa dari cengkramannya)karena saya pegang dengan satu tangan dan tangan yang lainnya mengendalikan kemudi sepeda. Saya menaruhnya dikost, didepan kamar saya, dan saya langsung mengambil kotak untuk tempat tidurnya. Tetangga kost saya langsung bangun karena mendengar meongan si Bonk ini, dan dia juga menyukainya. Yah, untuk sementara mereka berdua (Bonk dan tetangga kost saya) saya tingalkan, dan saya kembali melanjutkan misi saya, yaitu jogging.
Ketika saya pulang dari jogging, saya menemukan si Bonk tidur di keset kamar saya, berikut roti marrie yang dilunakkan dengan air, tapi sepertinya ga dimakan si Bonk. Hari itu, resmilah saya mengadopsi seekor kucing kampung berwarna hitam kekuningan, yang pada hari itu sepertinya masih shock dan selalu mengeong-ngeong tidak karuan seperti sedang mencari-cari. Yah! Hari itu, Bonk habiskan dengan mengeong histeris, kecapean, tidur, bangun, mengeong histeris lagi sambil berjalan tak tentu arah, kemudian jatuh tidur lagi karena kecapean. Malamnya, dengan kondisi Bonk yang masih shock dan belum mau makan, dia tidur bersama saya. Tentu saja dia dikardusnya. Sepertinya, malam itu dia tidak bangun-bangun, saya pikir dia udah mati kelaparan atau karena sedih atau campuran keduanya.
Paginya, dia tetap tidak mau makan, tetap berteriak histeris. Tetangga kost saya memaksa dia makan whiscas, Haduh ini makanan satu ini kalau dibiasakan, akan membuat saya bangkrut ni. Dan ternyata Bonk mau makan! Yah akhirnya Bonk menerima kenyataan dan berdamai dengan nasib, hehehehe. Dan kerjaan Bonk pada hari kedua ini bertambah dengan makan. Jadi kalau disimpulkan kerjaannya Bonk pada hari kedua adalah tidur, bangun, mengeong-ngeong histeris, berjalan tak tentu arah, makan, dan menyuduk-nyuduk apa saja, (Bonk mengira bahwa dia akan menemukan putting induknya)
Oh ya, kost saya suka didatangin oleh kucing-kucing untuk mengincah tempah sampah dan siapa tahu ketemu makan. Nah pada waktu itu, pada hari pertama, ketika Bonk masih sangat shock dengan keberadaan dirinya, saya melihat seekor induk kucing yang sedang memata-matai tulang ikan dekat tempat sampah saya, saya memperlihatkan Bonk padanya, kali aja timbul belas kasihan si Induk dan mau jadi ibu tirinya, dan siapa tahu Bonk akan menyundul perutnya itu dan menemukan putingnya, tapi sepertinya si Induk Kucing Shock dan melihatku bergantian dengan melihat Bonk dengan tatapan matanya yang bulat dalam waktu yang lama. Dalam hati saya lagi berfikir, mungkin si Kucing ini lagi dilemma ya, timbul ibanya, tapi sisi lainnya mengisyaratkan kewaspadaan (kali aja akan terjadi cerita Minangkabau versi kucing, hehehe). Dia berbalik arah, tapi dalam keraguan, antara ngacir atau melihat Bonk dan membawanya. Hahahahah, ini kan pikiran saya tentang pikiran si induk Kucing.
Beginilah kehidupan anak kost, apalagi dengan duit pas-pasan seperti saya. ketika ditumpangi walaupun oleh seekor kucing kampung, dan hanya mau makan wishcast, saya melihat dia terus dan membiarkan dia meminta whiscas dan pada akhirnya menyerah dan pada akhirnya memakan makanan yang saya beri yang tentu saja itu bukan whiscas. Kucing sama aja seperti manusia, kalau dibiasakan hidup prihatin sejak kecil, maka dia akan terbiasa, jika dibiasakan makan wishcast, dia pasti tidak akan mau makan makanan lain. Tapi terkadang timbul juga kasihan saya melihatnya, apalagi ketika mata kami bertemu, dan sepertinya saya jadi bisa membaca pikirannya itu, dan akhirnya saya belikan juga dia makanan yang mahal itu.
Ah Bonk, kok saya jadi bersemangat ya karena dia walau tak jarang dia merepotkan saya dengan masuk kamar dan menginjakkan kakinya yang kotor itu, dan ketika belum terbiasa pipis dan buang air besar di tanah. Sekarang sih udah, ternyata cukup gampang mengajari Bonk untuk pup dan pipis di tanah.
Ah ya, ketika hari ketiga, saya memandikan Bonk yang masih balita ini, yang jalannyapun belum cukup pas, masih suka oleng dan terjengkang karena menggeliat atau menggaruk-garuk. Saya memandikan Bonk dengan detergen, ini atas saran ibu saya, agar kutu si Bonk pergi dan menjadi bersih dan higienis kayak cucian, setelah itu saya menyabuni dia dengan dettol cair, sekalian aja setelah itu saya guyur di bawah kran. Kok bersihnya susah ya, dan akhirnya saya berkali-kali merendam dia yang mebuat dia tidak bisa teriak histeris lagi. Kedinginan dan menggigil. Untunglah matahari cukup panas, jadilah saya menjemur Bonk. Lengkap sudah dia seperti cucian yang akan dijemur, untunglah tahap setrikanya tidak jadi karena bulu Bonk tidak kusut.
Kini Bonk hidup dengan Arda dan Arda hidup bersama Bonk. Entah sampai kapan, yang pasti saya berharap Bonk akan tumbuh cerdas dan dapat bertahan hidup dikerasnya alam. Hahahahha.