This gallery contains 1 photo.

Apa kamu pernah meminta hanya untuk menjadi kucing Atau apakah dikehidupan lalu, kau pernah menjadi selain  kucing, Atau apakah kau akan berreinkarnasi untuk menjadi manusia dikehidupan berikutnya? Aku tidak tahu, tapi ketika menatap matamu, selalu itu yang Aku pertanyakan Entah Kau menanyakan hal yang serupa padaku Bahwa pernahkah Aku meminta hanya untuk menjadi manusia Menjadi …

Baca Selengkapnya

Kostan saya pernah dibilang kolot sama seorang teman. Ini terjadi beberapa tahun yang lalu sewaktu saya kost didaerah UNY. Saya heran saja, kok bisa ya dia menilai kostan saya itu adalah kostan tipe kolot. Sekedar info aja, kostan saya memang mempunyai jam malam, yakni jam 9 malam, lalu mempunyai pintu gerbang yang kalau jam 9 akan dikunci sama bapak kost, selain itu tentu saja cowok dilarang masuk kamar.

Namun, dengan indikator ini apakah sudah memenuhi kriteria kolot? Yang kalau dipikir-pikir kolot itu relatif, tergantung situasinya dimana, dan siapa yang mencetuskannya. Saya jadi berfikir untuk poin kedua, dia, temanku itu, saya rasa dia tidak pantas menyebutkan kata kolot itu pada kost saya. Dia yang sejak SMP selama tiga tahun aja tinggal di asrama putri, belajar agama, tidak bergaul dan dilarang dekat dengan cowok. Saya merasa saya lebih longgar dalam hal ini, saya bersekolah di sekolah umum sejak kecil dan mempunyai teman akrab yang kebanyakan cowok sejak di SD nya, menganggap kostan saya bukanlah kostan kolot.

Ketika mendengar eceannya ini, saya jadi merasa sedih, marah, dan berusaha memahami pemikirannya itu. Saya sedih, bukan karena saya disadarkan olehnya bahwa selama ini saya tinggal di kost yang memiliki peraturan ketat sehingga dibilang kolot. Saya sedih atas dia! Ya, dia! Saya sedih kenapa dia bisa memandang negatif dan betapa kolotnya kostan saya, saya sedih atas pikirannya itu.

Sejenak saya berfikir, apa euphoria kebebasannyakah yang membuat dia berkata seperti itu? Menyadari bahwa apa yang dijalaninya selama tiga tahun itu ternyata kekeliruan besar dalam hidupnya? Menganggap bahwa dengan tidak tinggal di asrama dan bisa bergaul bebas seperti kebanyakan anak lainnya disebut sebuah kemodernan dan tidak kolot?

Saya memandang, kostan saya tidak kolot dan merasa semua baik-baik saja. Memang ada beberapa peraturan seperti dilarang pulang malam melebihi batas aturan karena kita nanti pasti tidak akan bisa masuk, kuncinya dipegang sama bapak kostnya, lalu cowok dilarang masuk kamar, kalau cowok ingin bertamu, ya harus diruang tamu. Namun saya merasa baik-baik saja selama ini, jika saya lagi ada keperluan yang melebihi batas kost, saya bisa ngomong sama bapak kostnya dan nanti akan dikasih kunci atau akan dibukain gerbangnya.

Justru saya merasa bahwa peraturan berguna untuk mengontrol diri kita. Agar jangan pulang terlalu malam, agar jangan memasukkan cowok ke dalam kamar. Coba kalau bebas, kita akan memasukkan cowok ke dalam kamar kita, dan kalau kita punya pacar, dan kalau kita lagi berduaan apalagi didalam kamar, bisa-bisa hal-hal yang tak diinginkan terjadi dan kita tidak bisa mengontrol diri kita. Setidaknya peraturan ini, bahwa cowok dilarang masuk kamar, membuat saya tidak terlibat terlalu jauh dalam hubungan perempuan dan laki-laki diluar batas kewajaran. Tahu sendiri pergaulan muda-mudi kalau ga dikontrol akan berbahaya. Apalagi ini di Jogja.

Sekarang, saya telah pindah kost. Anak-anak kost dibebaskan pulang jam berapapun dia mau, karena masing-masing mempunyai kunci, namun cowok tetap tidak boleh masuk.  Selain itu, kontrol warga dikost saya ini sangat terasa sekali. Saya tak tahu apakah ini masih masuk kriteria kolot versi teman saya itu, namun malahan yang pasti saya merasa bebas dengan kost ditempat kost yang cowoknya tidak boleh masuk.

— Karena merdeka sudah sejak dalam pikiran–

Kalimat diatas beberapa hari ini terus bergaung di pikiran saya, sedikit mengubah kata-katanya Pram dalam Bumi manusia, Bahwa Adil sudah sejak dalam pikiran. Saya rasa Merdeka, sama halnya dengan adil, harus ada sejak dalam pikiran. Merdeka dalam hal ini adalah merdeka dari ketergantungan yang bersifat remeh.

Ketika saya baru pindah kost beberapa hari, seorang tetangga kost saya yang baru bertanya kepada saya, “Kamu ga punya tivi ya?brarti ga ada hiburan ya?” dia bertanya ketika dia bertandang kekamar saya dan memperhatikan barang-barang yang ada di kamar saya yang notabene tidak ada televisinya. Dari mimiknya saya paham bahwa dia heran kenapa saya begitu betah dan tidak bosan dengan ketiadaan televisi di kamar saya. Saya tersenyum saja, dalam hati saya menjawab “kan saya bisa menghibur diri saya sendiri kok mbak

Beberapa bulan setelah itu ketika saya bertandang kekamarnya dan meliat tivi yang sedang hidup, dia bertanya bernada serupa, “Kamu kalau mau menonton kemana dong Da?”. Masih dengan mimic prihatin akan kondisi saya yang tidak punya tivi.

Sejenak saya berfikir tentang pikirannya yang menurut saya tidak pantas untuk seukuran dia yang sering keluar negeri yang tarafnya untuk pertukaran pelajaran atau summer school. Saya merasa kasihan kepada dia yang sudah melihat dunia luas namun tidak mendapat pencerahan sama sekali. Tapi ternyata belakangan saya tahu, sering bepergian ke luar negeri itu ternyata tidak selalu berdampak bagus kepada kecerdasan. Banyak juga teman-teman saya yang  cerdas yang mereka tidak keluar negeri walaupun juga banyak teman-teman saya yang cerdas yang juga sering keluar negeri.

Ada lagi cerita ketika saya membeli sayur dan lauk di sebuah warung makan yang berada dekat kost saya. Sesampai disana, saya melihat tiga orang yang biasanya melayani pembeli, berdiri didepan televisi dengan jarak yang amat dekat. Saya berfikir,  karena hari sudah sore, mungkin mereka membutuhkan tontonan yang bisa mengurangi kepenatan ereka karena seharian memasak dan melayani pembeli. Saya harus memanggil nenerapa kali agar satu diantara mereka mendengar. Ketika satu diantara mereka akhirnya menoleh dan mengatakan bahwa dagangan hampir semuanya habis, dia langsung kembali ke posisi semula, menonton sinetron yang pada waktu sedang terjadi konflik hebat. Mungkin mbaknya tidak mau ketinggalan bagian yang penting kali ya???Saat itu saya perhatikan, diantara mereka ada anak kecil yang tidakmenonton, namun sepertiya sedang asik melukis. Betapa berbedanya dunia anak kecil dengan dunia orang dewasa. 

Kembali ke televisi, memang tidak dapat dipungkiri, bahwa televisi dapat memberikan hiburan kepada kita, namun ketika benda tersebut tidak ada, maka tidak bisa dikatakan bahwa kita tidak ada hiburan. Saya berfikir bahwa apakah ini yang sebagian orang pikirkan tentang fungsi kotak yang bernama televisi itu. Ketika televisi tidak ada maka hiburan pun tidak bisa didapat lagi. Bahwa satu-satunya jalan untuk mendapatkan hiburan adalah dengan menonton televisi.

Tak dapat dipungkiri, televisi juga mempunyai manfaat. Ketika televise mengungkap sebuah penemuan penting, atau informasi dan manfaat lainnya. Namun menggantungkan diri dengan keberadaan televisi? menganggap televisi sebagai satu-satunya hiburan?Mungkin beberapa orang yang seperti tetangga kost saya itu, dimana hiburan diidentikkan dengan keberadaan televisi, televise menjadi barang yang wajib ada dikamar mereka. Berbeda kondisinya dengan kejadian di warung makan, mungkin mereka menganggap bahwa dengan menonton sinetron di televisi bisa menghilangkan kepenatan disaat lelah. Apapun kondisinya, menganggap televisi sebagai alat penghibur memang tidak salah, Namun menganggap bahwa televisi adalah satu-satunya alat penghibur dan jika benda ini tidak ada,  maka hiburan pun tida ada adalah salah besar.  

Kasian juga ya kalau yang menganggap bahwa tidak ada televisi berarti tidak ada hiburan. Betapa banyak hiburan yang tersedia selain keberadaan televisi dan betapa banyak kegiatan yang bermanfaat yang bisa kita lakukan walau tanpa keberadaan televisi. 

Jika kita membagi cinta, maka cinta itu akan semakin banyak, bukannya berkurang

Itulah kalimat pendek ibu yang selalu saya ingat sampai sekarang. Ibu saya mengatakannya waktu saya masih kecil, ketika saya SD. Waktu itu saya sering complain kepada Mela, Sepupu saya yang suka bermanjaan sama ibu. Saya yang bungsu sering cemburu jika dia sudah mulai dekat-dekat ke ibu saya, memeluk ibu saya dan ibu saya mengusap kepalanya. Saya sering berkata kepada Mela “kamu manjanya sama aku aja, jangan sama ibuku”.

Nah, ketika saya lagi berdua sama ibu, waktu itu naik motor dari pasar. Di jalan, ibu saya bilang, bahwa Cinta itu sesuatu yang indah, kalau kita memberikan cinta kita kepada orang lain, maka cinta itu tidak akan berkurang, malahan akan bertambah. Saya yang masih kecil tidak mengerti, dalam pikiran anak-anak saya berkata masak kalau udah dibagi malahan bertambah, ya berkuranglah. Namun entah kenapa, saya selalu ingat perkataan ibu saya tersebut.

Ketika Erupsi Merapi terjadi pada bulan Oktober 2010, saya menjadi relawan dalam program trauma healing di salah satu LSM. Saya menjadi fasilitator yang wajib ke lokasi pengungsian 3 kali seminggu. Disana saya mengajak anak-anak bermain, belajar, intinya membuat mereka gembira walaupun berada dilokasi pengungsian yang serba terbatas. Menuju ke lokasi pengungsian dapat dikatakan tidak mudah, Magelang, merupakan lokasi yang terkena erupsi yang terparah dibanding wilayah Sleman dan Klaten. Jalanan yang berkabut karena debunya bertumpuk di aspal, terkadang disertai hujan angin, dan rintangan lainnya.

Namun ada satu kebahagian tersendiri yang saya rasakan ketika telah berhasil melewati semua rintangan tersebut. Rasanya rintangan tersebut tidak ada artinya dengan kebahagiaan melihat anak-anak dengan kegembiraan yang mereka rasakan dengan kedatangan kami dan mengajaknya bermain, melukis, menari, menyanyi. Mereka selalu menyambut kami ketika motor kami baru saja terparkir didepan lokasi pengungsian dan merasa keberatan ketika jadwal fasilitasi berakhir.

Membuat topeng bareng-bareng

Benar kata ibu, bahwa cinta itu suatu hal yang luar biasa. Dengan membagi cinta kepada mereka, maka kita akan mendapatkan cinta yang lebih banyak lagi. Bahagia rasanya mengelus rambut mereka, mendengar ocehan mereka, ketika mereka berebut ingin duduk berdekatan dengan kita. Ada satu anak ni yang tinggal bersama neneknya, Megan namanya, ibunya menjadi TKW dan bapaknya bekerja di daerah lain, Dia suka mencibir dan teriak-teriak  tiap kali fasilitasi dimulai, namun sangat mudah mebuat dia tidak berbuat seperti itu, cukup ditarik kedekat kita dan menanyakan kabarnya, dan setelah itu dia akan bersikap sopan dan suka dekat-dekat.

Ada lagi cerita, ketika waktu itu kita melukis bebas, tidak tahunya ada seorang anak yang malu-malu datang mendekat. Atin namanya. Dia membawa segulung kertas, dan ternyata dia memberikannya ke saya. Ketika saya membuka gulungan kertas tersebut, saya terharu. Ternyata dia membuatkan saya lukisan, waaaaaaa, senangnya!!!. Disana ditulisin “kak Arda”. Lalu saya meminta dia untuk menuliskan namanya. Dengan bangga saya melihatkannya kepada teman-teman saya. Mereka bilang, lukisannya udah mirip dengan saya. 😀

Ini nih gambar saya yang dibuatin Atin 

Banyak lagi tingkah anak-anak ini yang membuat saya selalu semangat tiap mau berangkat. Walaupun menghabiskan waktu 90 menit perjalanan naik motor, hal ini tidak jadi masalah karena capek yang saya rasakan tidak ada apa-apanya disbanding keadaan mereka yang serba kekurangan serta kekhawatiran yang mereka rasakan ketika Merapi meletus. Saya belajar banyak hal dari mereka, bahwa kegembiraan tercipta dari hal-hal yang sederhana dan kebahagiaan terlahir dari sebuah ketulusan. Dan memberi cinta akan membuat kita akan kaya cinta. 

Saya punya kucing, Bonk namanya, hitam kekuningan warnanya, seeor kucing kampung. Saya menemukannya ketika pada hari minggu pada tanggal 16 Oktober 2011 ketika saya berangkat jogging naik sepeda (jogging kok naik sepeda?) begini, saya mau jogging di rektorat Ugm dan untuk kesana saya mengendarai sepeda. Ditengah jalan, saya mendengar suara kucing, karena jalanan lengang, meongannya terdengar keras sekali, namun jika didengar baik-baik, suaranya melukiskan perasaan takut, kehilangan, sepi. Saya menemukannya ditengah jalan, dimana disisi jalan tersebut ada tumpukan sampah. Kucingnya dibuang, begitu kata pemulung yang sedang memunguti sampah, dibawa aja, sarannya lagi.

Bonk

Bonk pada hari pertama bertemu dengan saya

Dan saya pun membawanya, dengan suara lolongannya yang tak reda juga, bercampur cemas (terasa dari cengkramannya)karena saya pegang dengan satu tangan dan tangan yang lainnya mengendalikan kemudi sepeda. Saya menaruhnya dikost, didepan kamar saya, dan saya langsung mengambil kotak untuk tempat tidurnya. Tetangga kost saya langsung bangun karena mendengar meongan si Bonk ini, dan dia juga menyukainya. Yah, untuk sementara mereka berdua (Bonk dan tetangga kost saya) saya tingalkan, dan saya kembali melanjutkan misi saya, yaitu jogging.

Ketika saya pulang dari jogging, saya menemukan si Bonk tidur di keset kamar saya, berikut roti marrie yang dilunakkan dengan air, tapi sepertinya ga dimakan si Bonk. Hari itu, resmilah saya mengadopsi seekor kucing kampung berwarna hitam kekuningan, yang pada hari itu sepertinya masih shock dan selalu mengeong-ngeong tidak karuan seperti sedang mencari-cari. Yah! Hari itu, Bonk habiskan dengan mengeong histeris, kecapean, tidur, bangun, mengeong histeris lagi sambil berjalan tak tentu arah, kemudian jatuh tidur lagi karena kecapean. Malamnya, dengan kondisi Bonk yang masih shock dan belum mau makan, dia tidur bersama saya. Tentu saja dia dikardusnya. Sepertinya, malam itu dia tidak bangun-bangun, saya pikir dia udah mati kelaparan atau karena sedih atau campuran keduanya.

Paginya, dia tetap tidak mau makan, tetap berteriak histeris. Tetangga kost saya memaksa dia makan whiscas, Haduh ini makanan satu ini kalau dibiasakan, akan membuat saya bangkrut ni. Dan ternyata Bonk mau makan! Yah akhirnya Bonk menerima kenyataan dan berdamai dengan nasib, hehehehe. Dan kerjaan Bonk pada hari kedua ini bertambah dengan makan. Jadi kalau disimpulkan kerjaannya Bonk pada hari kedua adalah tidur, bangun, mengeong-ngeong histeris, berjalan tak tentu arah, makan, dan menyuduk-nyuduk apa saja, (Bonk mengira bahwa dia akan menemukan putting induknya)

Oh ya, kost saya suka didatangin oleh kucing-kucing untuk mengincah tempah sampah dan siapa tahu ketemu makan. Nah pada waktu itu, pada hari pertama, ketika Bonk masih sangat shock dengan keberadaan dirinya, saya melihat seekor induk kucing yang sedang memata-matai tulang ikan dekat tempat sampah saya, saya memperlihatkan Bonk padanya, kali aja timbul belas kasihan si Induk dan mau jadi ibu tirinya, dan siapa tahu Bonk akan menyundul perutnya itu dan menemukan putingnya, tapi sepertinya si Induk Kucing Shock dan melihatku bergantian dengan melihat Bonk dengan tatapan matanya yang bulat dalam waktu yang lama. Dalam hati saya lagi berfikir, mungkin si Kucing ini lagi dilemma ya, timbul ibanya, tapi sisi lainnya mengisyaratkan kewaspadaan (kali aja akan terjadi cerita Minangkabau versi kucing, hehehe). Dia berbalik arah, tapi dalam keraguan, antara ngacir atau melihat Bonk dan membawanya. Hahahahah, ini kan pikiran saya tentang pikiran si induk Kucing.

Beginilah kehidupan anak kost, apalagi dengan duit pas-pasan seperti saya. ketika ditumpangi walaupun oleh seekor kucing kampung, dan hanya mau makan wishcast, saya melihat dia terus dan membiarkan dia meminta whiscas dan pada akhirnya menyerah dan pada akhirnya memakan makanan yang saya beri yang tentu saja itu bukan whiscas. Kucing sama aja seperti manusia, kalau dibiasakan hidup prihatin sejak kecil, maka dia akan terbiasa, jika dibiasakan makan wishcast, dia pasti tidak akan mau makan makanan lain. Tapi terkadang timbul juga kasihan saya melihatnya, apalagi ketika mata kami bertemu, dan sepertinya saya jadi bisa membaca pikirannya itu, dan  akhirnya saya belikan juga dia makanan yang mahal itu.

Ah Bonk, kok saya jadi bersemangat ya karena dia walau tak jarang dia merepotkan saya dengan masuk kamar dan menginjakkan kakinya yang kotor itu, dan ketika belum terbiasa pipis dan buang air besar di tanah. Sekarang sih udah, ternyata cukup gampang mengajari Bonk untuk pup dan pipis di tanah.

Ah ya, ketika hari ketiga, saya memandikan Bonk yang masih balita ini, yang jalannyapun belum cukup pas, masih suka oleng dan terjengkang karena menggeliat atau menggaruk-garuk. Saya memandikan Bonk dengan detergen, ini atas saran ibu saya, agar kutu si Bonk pergi dan menjadi bersih dan higienis kayak cucian, setelah itu saya menyabuni dia dengan dettol cair, sekalian aja setelah itu saya guyur di bawah kran. Kok bersihnya susah ya, dan akhirnya saya berkali-kali merendam dia yang mebuat dia tidak bisa teriak histeris lagi. Kedinginan dan menggigil. Untunglah matahari cukup panas, jadilah saya menjemur Bonk. Lengkap sudah dia seperti cucian yang akan dijemur, untunglah tahap setrikanya tidak jadi karena bulu Bonk tidak kusut.

Kini Bonk hidup dengan Arda dan Arda hidup bersama Bonk. Entah sampai kapan, yang pasti saya berharap Bonk akan tumbuh cerdas dan dapat bertahan hidup dikerasnya alam. Hahahahha.


Menyusuri jalanan yang sejuk mengantarkan saya ke ingatan semasa kanak-kanak tentang alam dan petualangan kecil

Liburan hari ini, 17 Mei 2011, dalam rangka memperingati hari raya waisak, saya dan teman saya, Anin bersepeda menyusuri jalan Cebongan. Jalanan yang tidak terlalu ramai dan teduh membuat kami memilih jalan cebongan, selain itu, kami ingin melihat sungai yang bersih dan siapa tahu bisa mandi disana. Hehehe 😀 saya memang menyukai sungai, bawaannya pengen mandiii begitu bertemu air.

Memang benar, karena sepanjang jalan Cebongan terdapat sawah dan rimbunan pohon membuat jalanan teduh dan membuat pemandangan sedikit teralihkan dari suasana kota yang padat dan macet. Menyusuri jalanan ini, serasa bersepeda menyusuri jalanan di pedesaan, penuh hamparan hijau dan disini banyak sekali penduduk yang bersepeda ontel sekedar ke kebun, ke sawah, atau pergi mandi. Kami juga menemui rombongan pesepeda.

Karena niat awal adalah menemukan sungai yang bersih dan jernih. Maka kami terlalu bersemangat untuk menemukannya. Kami menemui selokan yang airnya deras dan bersih. DIsana ada ibu-ibu yang mencuci. Dan mungkin juga dipakai mandi oleh penduduk setempat. Sebenarnya ini lebih baik daripada keadaan sungai di kota. Tapi kami ingin menemukan langsung sumber air dari sungai yang banyak batunya.

Dan ternyata 45 menit ngegoes, kami menemukan sungai besar. Tapi ini dekat jalanan dan berada diketinggian yang sangat jauh dan diatasnya terdapat jembatan. Bagaimana caranya kesana?kami menelusuri sepanjang jembatan untuk menemukan jalan menuju kebawah. Akhirnya saya dan teman saya bersepakat kerumah teman saya, Dini yang tak jauh dari sungai ini. Siapa tahu dia mengerti jalanan menuju sungai itu.

Setelah berhasil mengajak teman saya tersebut, kami bertiga segera meluncur ke sungai itu lagi, saya dan kedua teman saya tidak ada yang tahu apa nama sungai itu. Ternyata  Dini juga tidak tahu jalan menuju sungai itu, 😛 akhirnya kita mengitari sepanjang jembatan dan masuk kepersimpangan yang kami rasa akan menuju sungai. Ternyata susah sekali menemukannya.

Kami menemukan tangga, dan ternyata sangat curam dan hanya menuju perkebunan pepaya didekat sungai. Yang kami pikirkan adalah bagaimana menurunkan sepeda kami. Karena masing-masing dari kami meminjam, tentu saja kami takut sepeda pinjaman ini hilang sementara kami bersenang-senang di sungai.

Ya! Kami memilih menurunkan sepeda melewati tangga yang curam itu. Satu persatu kami turunkan. Susah sekali ternyata. Dan setelah ketiganya berada dilokasi yang cukup aman, tiga sepeda kami satukan dalam satu rantai, ban depan dan ban belakang.

Sepertinya jarang yang datang kesungai, terbukti dengan jalanan menuju sungai  yang semak. Atau kami saja yang tidak menemukan jalan yang tepat?:D. Setelah sampai di sungai. Kami menuju hilir. Ada air mancur. Tentu saja tidak, air ini berasal dari selokan yang berada di samping sungai yang berada di ketinggian sekitar 20 cm dari sungai. Beberapa dari air mancur ini, ada yang membentuk pelangi. Sayang kami tidak membawa kamera. Jadi kami harus merekam dan mengingat peristiwa menyenangkan ini dalam kepala kami sampai besok-besok. Akhirnya kami sampai di hilir sungai yang banyak batuannya. Segera saja kami pura-pura berenang. Air yang deras harus membuat kami berpeganan pada batu dan kami harus hati-hati agar tidak terbentur batuan sungai.

Damai sekali bisa meresapi air sungai dan harmoni alam, suara sungai yang membuat pikiran tenang. Saya yang berasal dari desa, bersukur bisa hidup didesa dimana hidangan alam masih asli dan semuanya tersedia, kicauan burung, pancuran, sungai, sawah, penduduk yang ramah, dan kapanpun bisa memetik sayuran. Inilah kedamaian yang tak bisa terganti dengan hanya ke mall, shoping, kebioskop, dan segala jenis hiburan ala kota lainnya.

Perjalanan selalu membuat kita menghargai kenyamanan dan hal-hal kecil yang sering terabaikan

“Bentar lagi nyampe kok, itu udah deket” selalu begitu kata-kata Ipang, Harry, Kausar kepada kami. Sebagai orang yang sering mendaki gunung dan pernah mendaki Lawu, mereka selalu mengatakan hal tersebut ketika kami dilanda capek luar biasa dan berhenti (lama) untuk mengatur nafas. Menurut mereka, Itu enaknya pendakian yang dilakukan malam, kami hanya terpaku pada jalan yang kami lalui sehingga kami tidak merasakan tambahan capek karena tidak melihat tanjakan yang panjang didepan mata ditambah kalimat “penyemangat” tadi.

Walaupun tidak melihat tanjakan dan tebing yang terjal, tetap saja saya, dan sepertinya tiga orang teman perempuann saya yang juga baru mendaki gunung, dilanda kecapekan luar biasa dan kami berusaha menyemangati diri sendiri. Rasanya ransel yang kami bawa semakin berat saja. Ya! Ini adalah perjalanan mengalahkan diri sendiri dan pada saat berada pada puncak kelelahan, kita tahu batas keberadaan diri kita.

Akhirnya kami mendapat kesempatan untuk beristirahat di pos 3. Sementara dua teman saya, Kausar dan Harry harus kembali ke Batu Jago mengambil tas Kausar yang tertinggal karena alasan perut. udara langsung menusuk ketika beberapa menit kami diam untuk beristirahat. Segera saja kami mendirikan tenda dan memasak. Rasa lelah terbayar ketika matahari pagi perlahan memberi warna pada awan-awan. Subhanallah! betapa kecilnya kami di alam Mu.

Kami melanjutkan perjalan kepuncak pada tengah hari setelah cukup istirahat dan makan. Sepanjang perjalanan dan semakin kepuncak, edelweiss semakin banyak kami temui. Perjalanan kali ini kami rasakan tidak seberat perjalan pertama, walaupun medannya semakin terjal, alasan khusus, karena saya menghabiskan banyak makanan, walaupun saya selalu berada dititik terakhir dari rombongan.

Kami memutuskan untuk bermalam dan mendirikan tenda di pos 5 yang terdapat Sendang Drajat sehingga kami tidak membawa beban lagi ketika melanjutkan perjalanan ke puncak. Sesampai dipuncak, matahari terbenam segera menghiasi awan yang mengitari puncak lawu, yang berada di bawah kaki kami yang berada diketinggian 3.265 mdpl

Kembali ke pos 5, udara Lawu dimusim kemarau yang semakin dingin dengan oksigen yang semakin menipis. Ipang yang kondisinya memburuk dan Dini yang tiba-tiba ambruk, hampir tak sadarkan diri. Saat itulah kami dihadapkan pada keadaan yang tak akan kami lupakan, bahwa solidaritas, saling berbagi, saling menjaga, dan rasa kebersamaan tidak hanya sebagai seorang teman namun lebih sebagai sesama yang berada ditempat yang jauh dari kehidupan yang biasa kami lalui, sunyi, dan mencekam. Walau kami tahu bahwa tidak ada orang lain yang berada di luar tenda, Saya yang berada ditepi dan juga teman-teman lainnya seolah mendengar bahwa ada kegiatan diluar tenda kami. Malam yang panjang dengan berbagai pikiran tentang berbagai hal, terutama mengenai sendrang drajat dan penghuninya dan harapan besok pagi.

Syukurlah, pagi datang juga. Kalau tidak untuk menghemat energi untuk turun, Sebenarnya kami ingin sekali menemui Mbok Yem, pedagang yang terkenal diantara pendaki Lawu. Kami turun pada tengah hari. Perjalan turun lebih cepat dibanding naik, bahkan beberapa ada yang berlari. Diperjalanan turun, kami sering menemui para pendaki yang berhenti untuk istirahat dan menikmati pemandangan. Kami juga menemui rombongan ibu-ibu dan bapak-bapak dengan kambing yang diseret. Sepertinya mereka berziarah.

Akhirnya, lebih kurang empat jam perjalanan turun, kami sampai di basecamp Cemoro Sewu yang terletak di Kabupaten Magetan, Jawa Timur dan melanjutkan perjalan ke Jogja dengan motor. Walaupun saling mengejek atas “aib” atau peristiwa memalukan yang terjadi, lebih dari itu, bahwa kami mendapati diri kami yang baru dan bahwa kesetiakawanan lebih berharga dari apapun. Dan sampai sekarang saya masih memikirkan nasib kambing yang diseret  keatas tersebut.

Gambar diambil dari: http://www.minangforum.com/archive/index.php/thread-4.htmlSebenarnya sudah lama saya ingin menceritakan pengalaman ini, namun sekaranglah ternyata waktunya yang tepat. Karena sudah empat tahun berada di Yogyakarta, jadi perubahan ini sangat terasa apalagi sewaktu saya pulang ke Minang. Perubahan ini terasa sekali sewaktu saya tiba di Bandara Internasional Minang (BIM), ketika akan mencari Damri menuju kota padang. Saya ditawari oleh seorang lelaki setengah baya. Mereka menawari saya Damri dengan menggunakan bahasa Indonesia. Saya tersenyum, menjawab dengan bahasa Minang berharap dia tahu ternyata saya orang Minang dan kemudian ngobrol menggunakan bahasa Minang. Namun, ternyata dia tetap bicara kepada saya dengan bahasa Indonesia.  Jadilah percakapan dua arah ini melibatkan dua bahasa. Bahasa Indonesia dan bahasa minang . Sebenarnya dia tidak bisa dikatakan berbahasa Indonesia juga sih, tetap saja logat minangnya terlihat sekali dalam bahasa Indonesianya itu. Dan mungkin saja, jika saya tidak mengerti bahasa Minang, mungkin akan sulit sekali mengerti bahasa Indonesia keminang-minangannya itu.

Untuk beberapa saat saya paham dan mengerti, mungkin mereka, para petugas bandara, petugas Damri, dan segala petugas di bandara ini menggunakan bahasa Indonesia untuk menghormati mereka yang tidak mengerti bahasa Minang, bahasa ibu Sumatera Barat. Selain itu, mungkin karena kebiasaan, Bahasa Indonesia kepadang-padangan ini tidak bisa berubah menjadi bahasa Minang ketika berhadapan dengan orang yang berbahasa Minang. Namun, alasan ini saya patahkan sendiri, kenapa saya yang jelas-jelas berbahasa Minang, tidak ditanggapi dengan bahasa Minang yang dari logatnya saja sudah kelihatan sekali dia bisa berbahasa Minang. Tapi bagaimanapun, saya harus memaksa diri saya paham dan mengerti dengan kebiasaan “orang-orang disini”. Toh maksud “orang-orang disini” tidak bisa dibenarkan karena saya baru menemui satu orang saja yang berbahasa seperti itu. Its okay!

Pengalaman yang bertemakan sama terjadi beberapa hari kemudian, ketika saya bertemu dengan teman-teman masa SMA yang kuliah di kota Padang. Ketika saya berbicara kepadanya dan mengajak ngobrol, memang dia menjawab dalam bahasa minang, namun setelah lama sepertinya kok ada yang aneh kedengarannya dan kurang pas didengar. Obrolannya diselingi oleh kata “gue” dan “lu”. Ya, saya paham kata “gue” itu merujuk pada kata saya dan kata “Lu” merujuk kepada kata kamu.

Kata Gue atau saya itu dalam bahasa minang dapat diartikan “ambo” atau “awak” atau “den/aden”. Penggunaan kata “ambo” ini bisa dikatakan tidak ngetrend lagi, alias jarang digunakan kecuali ketika orang-orang tua, mamak, dan bukan generasi kita yang menggunakannya dan ketika acara resmi atau untuk menghormati orang lain. Sedangkan kata “awak” terkesan kaku dan jadul, namun kata ini masih sangat sering digunakan ketika kita berbicara pada orang lain yang tidak terlalu dekat. Kata awak ini juga sering digunakan oleh pemuda-pemuda yang mungkin tidak menggunakan kata Gue.

Kata den/aden, yang berarti juga saya atau gue, pada saat sekarang, lebih terkesan kasar, dan kebanyakan digunakan dalam percakapan sesama teman yang akrab atau disebut sebagai bahasa pergaulan. Ada beberapa orang yang menganggap kata “aden/den/deyen” biasa namun juga ada yang menganggapnya kasar. Alternatif lain untuk memanggil diri sendiri adalah dengan menyebut nama sendiri ketika berbicara dengan orang lain. Jadi kata gue, saya, den/aden/deyen, ambo, atau awak diganti menjadi panggilan nama sendiri. Misal, yang berbicara adalah Dira. Jadi kira-kira begini omongan Dira: “Kayaknya Dira ga bisa deh sekarang, Dira lagi ditempat teman Dira”.

Kembali kepada topik, ketika saya ngobrol dengan teman lama, sama halnya dengan percakapan dengan petugas Damri di Bandara, bedanya percakapan ini tidak melibatkan dua bahasa, namun melibatkan dua kata yang berbeda yang mempunyai arti yang sama dan mempunyai makna yang berbeda. Dia dengan “Gue”nya, dan saya dengan “Aden” karena saya biasanya memakai kata “Aden” dalam percakapan dan tidak menganggap kata ini kasar jika diucapkan kepada teman.

Ketika saya bertemu dengan teman lama yang lain, dan saya baru sadar ternyata dia lebih tua beberapa tahun dari saya. Saya ingin merubah panggilan saya yang biasanya menyebut nama dengan memanggil dia dengan “Uda” yaitu kakak laki-laki dalam bahasa minang. Namun responnya tidak terlalu baik seperti yang saya harapkan, dia menerima panggilan kakak tersebut, namun rupanya panggilan “uda” kurang berkenan dihatinya. Dia menyarankan sebaiknya saya memanggil dia “Abang” saja. Akhirnya kesepakatan ini batal, karena saya dan dia keukeh terhadap pendapat masing-masing dan saya kembali memanggil dia dengan panggilan namanya seperti sebelumnya.

Panggilan “Uda” mungkin  sama dengan kata “awak” dalam pengunaanya. Jadul, dan tidak ngetrend. Panggilan uda lumayan sering saya dengar, namun sepertinya saya lebih sering mendengar panggilan abang ketika saya berada dalam kelompok mahasiswa, dan teman-teman SMA saya dulu. Dan kebanyakan teman-teman cewek saya memanggil pacarnya, memanggil cowok yang lebih tua dari mereka, sampai kepada uda-uda di toko-toko dengan panggilan “abang”. Hal yang sama terjadi ketika saya menawar sebuah baju dan penjaga tokonya yang cowok dan dengan Pedenya menyebut dirinya sendiri dengan “Abang”. “Wah kalau segitu, abang gak bisa ngasih, gak balik modal abang”. Begitulah ilustrasi kira-kira. Hahahahaha.

Mengulas sedikit kebiasaan memanggil diri sendiri dengan abang atau uda. Biasanya para lelaki yang merasa dirinya tua daripada lawan bicaranya, otomatis dan dengan tingat kepedean yang 100%, dia akan menyebut diri sendiri dengan kata abang atau uda dan apalagi lawan bicaranya wanita, otomatis tanpa mengurangi kepedeannya, dia memanggil lawan bicaranya dengan adek atau “adiak” dalam bahasa minangnya.

Hahahaha, perubahan ini baru terasa sekali ketika saya tidak di Sumatera Barat dan bermukim di kota lain. Ketika dulu, saya menetap di Sumatera Barat, perubahan ini saya anggap biasa dan sah-sah saja, walaupun saya tidak ikut-ikutan kecuali dalam hal memanggil “abang” :D.

Terlepas dari hal diatas, tulisan ini saya buat berdasar pengalaman bertemu dengan beberapa orang saja, bahwa berdasarkan pengukuran yang indikatornya saya buat sangat sempit saya menyimpulkan bahwa identitas keMinangannya semakin menipis. Bukan berarti itu benar, sekali lagi saya hanya menyimpulkan dari indikator yang sangat sempit tanpa melalui uji validitas dan pengamatan yang mendalam. Karena bisa saja saya tidak memasukkan indikator yang sangat berpengaruh dan menyebabkan tulisan ini tidak valid. Tapi apa salahnya berpendapat :D.

Selebihnya, orang-orang yang tidak masuk kedalam kriteria atau “indikator yang sempit” buatan saya ini, bukan berarti mereka mempunyai identitas keminangan yang tebal, sekali lagi, saya hanya membatasinya terhadap beberapa indikator yang sempit. Toh saya juga memanggil kakak laki-laki saya dengan panggilan “abang” dan saya juga juga berbahasa Indonesia (sesekali berbahasa Minang) kepada mahasiswa Minang yang saya temui di Yogyakarta, dan mereka juga membalas dengan bahasa Indonesia. Mungkin akan lain halnya ketika mahasiswa yang ngobrol dengan saya itu berbahasa Minang. Namun saya merasa saya cukup mempunyai Minang dan merasakannya sebagai identitas saya yang mungkin tidak terlalu kelihatan, namun tetap saja ada ikatan batin rasanya ketika ada sesuatu yang berhubungan dengan Minang. Yah perasaan tidaklah bisa diukur dengan logika (GUBRAKKKK!!!)

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai