Kaum muda Minang: Identitas yang Hilang

Gambar diambil dari: http://www.minangforum.com/archive/index.php/thread-4.htmlSebenarnya sudah lama saya ingin menceritakan pengalaman ini, namun sekaranglah ternyata waktunya yang tepat. Karena sudah empat tahun berada di Yogyakarta, jadi perubahan ini sangat terasa apalagi sewaktu saya pulang ke Minang. Perubahan ini terasa sekali sewaktu saya tiba di Bandara Internasional Minang (BIM), ketika akan mencari Damri menuju kota padang. Saya ditawari oleh seorang lelaki setengah baya. Mereka menawari saya Damri dengan menggunakan bahasa Indonesia. Saya tersenyum, menjawab dengan bahasa Minang berharap dia tahu ternyata saya orang Minang dan kemudian ngobrol menggunakan bahasa Minang. Namun, ternyata dia tetap bicara kepada saya dengan bahasa Indonesia.  Jadilah percakapan dua arah ini melibatkan dua bahasa. Bahasa Indonesia dan bahasa minang . Sebenarnya dia tidak bisa dikatakan berbahasa Indonesia juga sih, tetap saja logat minangnya terlihat sekali dalam bahasa Indonesianya itu. Dan mungkin saja, jika saya tidak mengerti bahasa Minang, mungkin akan sulit sekali mengerti bahasa Indonesia keminang-minangannya itu.

Untuk beberapa saat saya paham dan mengerti, mungkin mereka, para petugas bandara, petugas Damri, dan segala petugas di bandara ini menggunakan bahasa Indonesia untuk menghormati mereka yang tidak mengerti bahasa Minang, bahasa ibu Sumatera Barat. Selain itu, mungkin karena kebiasaan, Bahasa Indonesia kepadang-padangan ini tidak bisa berubah menjadi bahasa Minang ketika berhadapan dengan orang yang berbahasa Minang. Namun, alasan ini saya patahkan sendiri, kenapa saya yang jelas-jelas berbahasa Minang, tidak ditanggapi dengan bahasa Minang yang dari logatnya saja sudah kelihatan sekali dia bisa berbahasa Minang. Tapi bagaimanapun, saya harus memaksa diri saya paham dan mengerti dengan kebiasaan “orang-orang disini”. Toh maksud “orang-orang disini” tidak bisa dibenarkan karena saya baru menemui satu orang saja yang berbahasa seperti itu. Its okay!

Pengalaman yang bertemakan sama terjadi beberapa hari kemudian, ketika saya bertemu dengan teman-teman masa SMA yang kuliah di kota Padang. Ketika saya berbicara kepadanya dan mengajak ngobrol, memang dia menjawab dalam bahasa minang, namun setelah lama sepertinya kok ada yang aneh kedengarannya dan kurang pas didengar. Obrolannya diselingi oleh kata “gue” dan “lu”. Ya, saya paham kata “gue” itu merujuk pada kata saya dan kata “Lu” merujuk kepada kata kamu.

Kata Gue atau saya itu dalam bahasa minang dapat diartikan “ambo” atau “awak” atau “den/aden”. Penggunaan kata “ambo” ini bisa dikatakan tidak ngetrend lagi, alias jarang digunakan kecuali ketika orang-orang tua, mamak, dan bukan generasi kita yang menggunakannya dan ketika acara resmi atau untuk menghormati orang lain. Sedangkan kata “awak” terkesan kaku dan jadul, namun kata ini masih sangat sering digunakan ketika kita berbicara pada orang lain yang tidak terlalu dekat. Kata awak ini juga sering digunakan oleh pemuda-pemuda yang mungkin tidak menggunakan kata Gue.

Kata den/aden, yang berarti juga saya atau gue, pada saat sekarang, lebih terkesan kasar, dan kebanyakan digunakan dalam percakapan sesama teman yang akrab atau disebut sebagai bahasa pergaulan. Ada beberapa orang yang menganggap kata “aden/den/deyen” biasa namun juga ada yang menganggapnya kasar. Alternatif lain untuk memanggil diri sendiri adalah dengan menyebut nama sendiri ketika berbicara dengan orang lain. Jadi kata gue, saya, den/aden/deyen, ambo, atau awak diganti menjadi panggilan nama sendiri. Misal, yang berbicara adalah Dira. Jadi kira-kira begini omongan Dira: “Kayaknya Dira ga bisa deh sekarang, Dira lagi ditempat teman Dira”.

Kembali kepada topik, ketika saya ngobrol dengan teman lama, sama halnya dengan percakapan dengan petugas Damri di Bandara, bedanya percakapan ini tidak melibatkan dua bahasa, namun melibatkan dua kata yang berbeda yang mempunyai arti yang sama dan mempunyai makna yang berbeda. Dia dengan “Gue”nya, dan saya dengan “Aden” karena saya biasanya memakai kata “Aden” dalam percakapan dan tidak menganggap kata ini kasar jika diucapkan kepada teman.

Ketika saya bertemu dengan teman lama yang lain, dan saya baru sadar ternyata dia lebih tua beberapa tahun dari saya. Saya ingin merubah panggilan saya yang biasanya menyebut nama dengan memanggil dia dengan “Uda” yaitu kakak laki-laki dalam bahasa minang. Namun responnya tidak terlalu baik seperti yang saya harapkan, dia menerima panggilan kakak tersebut, namun rupanya panggilan “uda” kurang berkenan dihatinya. Dia menyarankan sebaiknya saya memanggil dia “Abang” saja. Akhirnya kesepakatan ini batal, karena saya dan dia keukeh terhadap pendapat masing-masing dan saya kembali memanggil dia dengan panggilan namanya seperti sebelumnya.

Panggilan “Uda” mungkin  sama dengan kata “awak” dalam pengunaanya. Jadul, dan tidak ngetrend. Panggilan uda lumayan sering saya dengar, namun sepertinya saya lebih sering mendengar panggilan abang ketika saya berada dalam kelompok mahasiswa, dan teman-teman SMA saya dulu. Dan kebanyakan teman-teman cewek saya memanggil pacarnya, memanggil cowok yang lebih tua dari mereka, sampai kepada uda-uda di toko-toko dengan panggilan “abang”. Hal yang sama terjadi ketika saya menawar sebuah baju dan penjaga tokonya yang cowok dan dengan Pedenya menyebut dirinya sendiri dengan “Abang”. “Wah kalau segitu, abang gak bisa ngasih, gak balik modal abang”. Begitulah ilustrasi kira-kira. Hahahahaha.

Mengulas sedikit kebiasaan memanggil diri sendiri dengan abang atau uda. Biasanya para lelaki yang merasa dirinya tua daripada lawan bicaranya, otomatis dan dengan tingat kepedean yang 100%, dia akan menyebut diri sendiri dengan kata abang atau uda dan apalagi lawan bicaranya wanita, otomatis tanpa mengurangi kepedeannya, dia memanggil lawan bicaranya dengan adek atau “adiak” dalam bahasa minangnya.

Hahahaha, perubahan ini baru terasa sekali ketika saya tidak di Sumatera Barat dan bermukim di kota lain. Ketika dulu, saya menetap di Sumatera Barat, perubahan ini saya anggap biasa dan sah-sah saja, walaupun saya tidak ikut-ikutan kecuali dalam hal memanggil “abang” :D.

Terlepas dari hal diatas, tulisan ini saya buat berdasar pengalaman bertemu dengan beberapa orang saja, bahwa berdasarkan pengukuran yang indikatornya saya buat sangat sempit saya menyimpulkan bahwa identitas keMinangannya semakin menipis. Bukan berarti itu benar, sekali lagi saya hanya menyimpulkan dari indikator yang sangat sempit tanpa melalui uji validitas dan pengamatan yang mendalam. Karena bisa saja saya tidak memasukkan indikator yang sangat berpengaruh dan menyebabkan tulisan ini tidak valid. Tapi apa salahnya berpendapat :D.

Selebihnya, orang-orang yang tidak masuk kedalam kriteria atau “indikator yang sempit” buatan saya ini, bukan berarti mereka mempunyai identitas keminangan yang tebal, sekali lagi, saya hanya membatasinya terhadap beberapa indikator yang sempit. Toh saya juga memanggil kakak laki-laki saya dengan panggilan “abang” dan saya juga juga berbahasa Indonesia (sesekali berbahasa Minang) kepada mahasiswa Minang yang saya temui di Yogyakarta, dan mereka juga membalas dengan bahasa Indonesia. Mungkin akan lain halnya ketika mahasiswa yang ngobrol dengan saya itu berbahasa Minang. Namun saya merasa saya cukup mempunyai Minang dan merasakannya sebagai identitas saya yang mungkin tidak terlalu kelihatan, namun tetap saja ada ikatan batin rasanya ketika ada sesuatu yang berhubungan dengan Minang. Yah perasaan tidaklah bisa diukur dengan logika (GUBRAKKKK!!!)

About these ads
1 comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: